Rabu, 20 Oktober 2010

Penelitian Agama

KATA PENGANTAR


Puji Syukur dengan tulus kami persembahkan kehadirat Allah SWT, dialah Tuhan yang menurunkan agama melalui wahyu yang disampaikan kepada Rasul pilihan-Nya, Muhammad SAW. Melalui agama ini terbentang luas jalan lurus yang dapat mengantarkan manusia kepada kehidupan bahagia dunia dan akhirat.
Selanjutnya ucapan terima kasih Kami ucapkan kepada Bapak Dosen pembimbing yang banyak memberi petunjuk dan langkah-langkah untuk terlaksananya karya tulis ini. Dan kepada teman yang telah sudi kiranya memberikan uluran tangan sehingga selesailah sebuah karya tulis ini.
Namun demikian, kami sadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi isi, metodelogi penulisan, maupun analisanya. Untuk itu saran dan kritikan dari Mahasiswa/i sekalian guna penyempurnaan makalah ini akan disambut dengan senang hati.
Disamping itu juga penyusunan makalah ini merupakan salah satu komponen yang wajib dibuat oleh Mahasiswa/i dalam proses melengkapi mata kuliah METODELOGI STUDI ISLAM di STAI AL-`Aziziyah Samalanga, mudah-mudahan menjadi bahan kajian kita semua.
Harapan kami, hendaklah kiranya bermanfaat bagi teman-teman dan pembaca lainnya, terutama bagi kami sendiri.
Akhirul kalam, Amin Yarabbal `Alamin.



Samalanga, 2 Desember 2004


Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

Kehadiran Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW diyakini bahwa dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan bathin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyingkapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti yang seluas–luasnya.
Petunjuk–petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Al-qur`an dan hadits nampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai aqal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, mengahrgai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti feodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan sikap – sikap posotif lainnya.
Namun kenyataan Islam sekarang menampilkan keadaan yang lebih jauh dari cita ideal tersebut. Ibadah yang dilakukan umat Islam seperti Shalat, Puasa, Zakat, Haji dan sebagainya hanya berhenti pada sebatas membayar kewajiban dan menjadi lambang kesalehan, sedangkan buah dari ibadah yang berdimensi kepedulian sosial sudah nampak berkurang. Di kalangan masyarakat telah terjadi kesalahpahaman dalam memahami dan menghayati pesan simbolis keagamaan itu. Akibat dari kesalahpahaman memahami simbol-simbol keagamaan itu, maka agama lebih dihayati sebagai penyelamat individu dan bukan sebagai keberkahan sosial secara bersama. Seolah Allah tidak hadir dalam problemtika sosial kita.
Tujuan penulisan/menyusun makalah ini adalah, pembaca dapat terbawa untuk memiliki wawasan yang utuh dan integral tentang Islam dan pengembangannya dan diharapkan untuk dapat menunjukkan dengan jelas tentang bagaimana ajaran Islam itu seharusnya dipahami.

BAB II
KONTRUKSI TEORI PENELITIAN AGAMA

A. PENGERTIAN KONTRUKSI TEORI PENELITIAN AGAMA.
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, W.j.s Poerwadarminta mengartikan kontruksi adalah cara membuat (penyusun) bagunan-bangunan, dan dapat pula diartikan susunan dan hubungan kata di kalimat atau di kelompok kata. Sedangkan teori berarti pandapat yang dikemukakan sebagai sauatu keterangan mengenai suatu peristiwa, dan berarti pula asas-asas dan hukum-hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian atau Ilmu pengetahuan. Selain itu teori dapat pula berarti pendapat, cara-cara dan aturan-aturan untuk melakukan sesuatu.
Selanjutnya dalam Ilmu penelitian teori-teori itu pada hakikatnya merupakan pernyataan mengenai sebab akibat atau mengenai adanya suatu hubungan positif antara gejala yang diteliti dari satu atau beberapa faktor tertentu dalam masyarakat, jadi kontruksi teori adalah susunan atau bagunan dari suatu pendapat, asas-asas atau hukum-hukum mengenai sesuatu yang antara satu dan lainnya berkaitan sehingga membentuk suatu bangunan.
Adapun penelitian berasal dari kata yang artinya cermat, seksama. Pemeriksaan yang dilakukan secara seksama dan teliti dan dapat pula berarti penyelidikan, penelitian (Research) yang dilahirkan oleh dunia ilmu pengetahuan mengandung implikasi-implikasi yang bersifat ilmiah, karena hal tersebut merupakan proses pengetahuan tentang penelitian yang disebut “ Methodelogy of research ”. Tujuan pokok dari kegiatan penelitian ini adalah mencari kebenaran-kebenaran obyektif yang disimpulkan melalui data-data yang terkumpul. Kebenaran-kebenaran obyektif yang diperoleh tersebut kemudian digunakan sebagai dasar atau landasan untuk pembaharuan, perkembangan atau perbaikan dalam masalah-masalah teroritis dan praktis bidang-bidang pengetahuan yang bersangkutan.
Namun demikian agama didefinisikan sebagai suatu ketundukan atau penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia yang dipercaya mengatur dan mengembalikan jalannya alam dan kehidupan manusia. Ini menurut pendapat J.G frazer. Dan frazer juga mengatakan bahwa agama terdiri dari 2 (dua) elemen yaitu yang bersifat teoritis dan yang bersifat praktis.
Berdasarkan rumusan tersebut Harun Nasution menyebutkan 8 (delapan) macam defenisi agama, dua diantaranya :
1. Agama berarti pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus dipatuhi.
2. Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.

Penelitian agama dapat dilakukan dalam upaya menggali ajaran-ajaran agama yang terdapat dalam kitab suci tersebut serta kemungkinan aplikasinya sesuai dengan perkembangan zaman. Berbagai pendekatan dan teori yang berkenaan dengan permohonan agama yang pernah dilakukan generasi terdahulu, misalnya dapat diteliti secara seksama sebagai bahan perbandingan bagi generasi berikutnya.
Berbagai uraian tersebut diatas kontruksi teori penelitian agama adalah suatu upaya memeriksa, mempelajari, meramalkan dan memahami secara seksama susunan atau bangunan dasar-dasar atau hukum-hukum dan ketentuan lainnya yang diperlukan untuk melakukan penelitian terhadap bentuk pelaksanaan ajaran agama sebagai dasar pertimbangan untuk mengembangkan pemahaman ajaran agama sesuai tuntunan zaman.

B. MACAM – MACAM PENELITIAN.
Penelitian dapat mengambil bentuk bermacam-macam tergantung dari sudut pandang mana yang akan digunakan untuk melihatnya. Di lihat dari segi hasil yang ingin dicapainya penelitian dapat dibagi menjadi penelitian menjelajah (Exploratory atau Diskriftif) dan penelitian yang bersifat menerangkan (Explonatory), jika dilihat dari segi bahan-bahan atau obyek yang akan diteliti maka penelitian dapat dibagi menjadi penelitian kepustakaan (Library Research) dan penelitian lapangan (Field Research), jika dilihat dari segi metode dasar dan rancangan penelitian yang digunakan, maka penelitian dapat dibagi menjadi penelitian yangg bersifat historis, perkembangan, kasus, korelasional, kausal - komparatif, eksperimen sungguhan, eksperimen semu dan penelitian tindakan (action research).

1. Penelitian Historis (Historical Research).
Tujuan penelitian historis adalah untuk membuat rekontruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi serta mensistematisasikan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.
Ciri-ciri penelitian ini adalah :
a. Bergantung kepada daya yang diobservasi orang lain daripada yang diobservasi oleh peneliti sendiri.
b. Harus tertib, ketat, sistematik dan tuntas dan bukan sekedar mengkoleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reabel dan berat sebelah.
c. Bergantung pada data primer dan data sekunder.
d. Harus melakukan kritik eksternal dan kritik internal.

2. Penelitian Kasus dan Penelitian Lapangan.
Tujuannya adalah mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga dan masyarakat.
Ciri-ciri penelitian ini adalah :
a. Penelitian kasus adalah penelitian mendalam mengenai unit sosial tertentu yang merupakan gambaran yang lengkap dan berorganisasi dengan baik mengenai unit tersebut.
b. Dibandingkan dengan studi survei yang cenderung meneliti sejumlah kecil variabel pada unit yang besar.


3. Penelitian Korelasional (Correlational Research).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau faktor lain berdasarkan koefisiensi korelari.
Ciri-cirinya antara lain :
a. Cocok dilakukan bila variabel-variabel yang diteliti rumit dan tak dapat diteliti dengan metode eksperimental atau tak dapat dimanipulasikan.
b. Studi macam ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya secara serentak dalam keadaan realistiknya.

4. Penelitian Kausal – Komparatif (Causal Comparatif Research).
Tujuannya adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu. Ciri-cirinya adalah bahwa data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat masanya).

5. Penelitian Eksperimental Sungguhan.
Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimental dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenal kondisi perlakuan.
Ciri-ciri penelitian ini adalah :
a. Menurut pengaturan variabel-variabel dan kondisi-kondisi eksperimental secara tertib, ketat, baik dengan kontrol manupulasi langsung maupun dengan menggunakan pengaturan secara acak.
b. Secara khas menggunakan kelompok kontrol sebagai garis dasar untuk membandingkan dengan kelompok-kelompok yang dikenal perlakuan eksperimental.

6. Penelitian Tindakan (Action Research).
Yang bertujuan untuk mengembangkan ketrampilan-ketrampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual yang lain. Yang memiliki ciri-ciri antara lain praktis dan langsung relevan untuk situasi aktual dalam dunia kerja serta fleksibel dan adaptif, membolehkan perubahan-perubahan selama masa penelitiannya dan mengorbankan kontrol untuk kepentingan inovasi.

7. Penelitian Survai.
Penelitian ini merupakan penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat perkumpulan data yang pokok.

8. Grounded Research.
Grounded research menurut Masri Singarimbun adalah menyajikan suatu pendekatan yang baru. Data merupakan teori, teori berdasarkan data karena itu dinamakan grounded.


C. LANGKAH – LANGKAH POKOK PENYUSUNAN DRAF
PENELITIAN DAN PENGKAJIAN ISLAM.
Langkah pokok draf penelitian dan pengkajian Islam adalah merupakan salah satu bagian pokok dari kontruksi teori penelitian agama, langkah-langkah tersebut pada hakikatnya merupakan kegiatan yang harus ada dalam suatu rencana penelitian. Di kalangan para ahli dijumpai pendapat yang satu sama lainnya agak berbeda ketika mengemukakan aspek-aspek yang harus ada dalam rencana penelitian. Mely G. Tan misalnya, mengemukakan bahwa suatu rencana penelitian dapat dibagi dalam delapan langkah berikut :
1. Pemilihan persoalan.
2. Penentuan ruang lingkup penelitian.
3. Pemeriksaan tulisan-tulisan yang bersangkutan.
4. Perumusan kerangka teoritis.
5. Penentuan konsep-konsep.
6. Perumusan hepotesa-hipotesa.
7. Pemilihan metode pelaksanaan penelitian.
8. Perencanaan sempling.

Selanjutnya jika unsur-unsur tersebut dikaitkan dengan rencana penyusunan draf penelitian dan pengkajian agama, maka yang harus ada adalah :
1. Unsur latar belakang masalah.
2. Study kepustakaan.
3. Landasan teori.
4. Metodelogi penelitian.
5. Kerangka analisa.
Kelima unsur tersebut yang lazim digunakan dalam penelitian sosial itu dapat digunakan untuk penelitian agama, karena agama dari segi bentuk pelaksanaannya merupakan bagian dari pengetahuan sosial atau merupakan bagian dari budaya manusia yang bercorak batiniah.

Ad. 1. Latar belakang.
Latar belakang masalah pada hakikatnya memuat pemikiran atau alasan yang jelas dan menyakinkan mengapa penelitian itu mesti dilakukan. Secara sederhana masalah terjadi karena adanya kesenjangan antara problema dengan teori.

Ad. 2. Study kepustakaan.
Kajian kepustakaan pada intinya dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang hubungan topik penelitian yang akan diajukan dengan penelitian sejenis yang pernah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya sehingga tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu & mubazir.

Ad. 3. Landasan Teori dan Hipotesa.
Suatu teori dalam penelitian amat berguna untuk menjelaskan, menginterpretasi dan memahami suatu gejala atau fenomena yang di jumpai dari hasil penelitian. Kerangka atau landasan teoritis membantu si peneliti dalam menentukan tujuan dan arah penelitiannya dan dalam memilih konsep-konsep yang tepat guna pembentukan hipotesa-hipotesanya.

Ad. 4. Metodelogi Penelitian.
Apabila konsep-konsep sudah ditentukan dan ditegaskan, dan landasan teori dan hipotesa telah terbentuk, maka kita menuju ke tahap pemilihan metode pelaksanaan penelitian. Metode mana yang akan dilakukan dan dinilai paling amat bergantung pada macam penelitian yang dilakukan serta maksud dan tujuan ingin dicapai.

Ad. 5. Kerangka Analisa.
Data yang terkumpul melaui berbagai metode tersebut selanjutnya diolah, pertama-tama data itu diseleksi atas dasar reliabilitas dan validitasnya. Menganalisa data merupakan suatu langkah yang sangat kritis dalam penelitian. Penelitian harus memastikan kerangka dan pola analisa yang akan digunakan, apakah analisis statistik atau analisis non statistik.


D. PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN.
Pendekatan dapat diartikan sebagai suatu cara pandang yang digunakan untuk menjelaskan suatu data yang dihasilkan dalam penelitian. Suatu data hasil penelitian dapat menimbulkan pengertian dan gambaran yang berbeda-beda tergantung kepada pendekatan yang digunakan.
Pendekatan topikal-tematik yaitu mengkaji suatu masalah dalam satu bidang ilmu pengetahuan dengan cara megelompokkannya dengan topik-topik tertentu atau tema-tema yang terdapat pada masing-masing disiplin keilmuan.
Memahami Islam dengan menggunakan berbagai pendekatan atau cara pandang disiplin suatu keilmuan adalah mungkin dilakukan bahkan harus dilakukan, karena Islam dengan sumber utamanya yang terdapat dalam Al-qur`an memang bukan hanya berbicara masalah Aqidah, Ahklaq, Ibadah dan Akhirat saja melainkan juga berbicara tentang Ilmu Pengetahuan, Tekhnologi, Sejarah, Sosial, Pendidikan, Politik dan sebagainya.


BAB. III
TEORI-TEORI PENELITIAN AGAMA

Teori adalah alat terpenting suatu ilmu pengetahuan, tanpa teori berarti hanya ada serangkaian fakta atau data saja dan tidak ada ilmu penegatahuan. Teori itu menyimpulkan orientasi untuk analisis dan klasifikasi fakta-fakta, meramalkan gejala-gejala baru, mengisi kekosongan pengetahuan tentang gejala-gejala yang telah ada atau sedang terjadi.
Ilmu-ilmu agama pada segi-seginya yang menyangkut masalah sosial termasuk bagian yang dapat diteliti, diamati dengan menggunakan piranti ilmiah atau metodelogi ilmiah ditentukan oleh obyek yang dikaji. Kalau segi-segi tertentu agama, katakanlah Islam itu berbeda pada fenomena sosial maka metode pengkajian terhadap fenomena itu adalah metode ilmu-ilmu sosial. Adapun terhadap segi-segi lain yang berpangkal pada postulat-postulat yang bersifat normatif dan dogmatis, sesuai dengan ajaran Islam yang bersumber pada wahyu dan iman, tidak dapat dijangkau oleh metode ilmiah yang harus mempertahankan obyektivitas berdasarkan konsep-konsep pemikiran logis dan bukti-bukti empiris. Tentu saja kebenaran agama dalam norma dan dogma mendambakan kebenaran mutlak, sedangkan kebenaran ilmiah hanyalah kebenaran nisbi, berdasarkan pada logika dan ketetapan ilmu pengetahuan, karena itu hakikat pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmu pengetahuan tidak mutlak sifatnya.
Penggunaan teori dalam kajian studi Islam telah banyak dibahas para ahli, Ricard C. Martin dalam bukunya berjudul Approaches to Islam in Religius Studies, telah membahas penggunaan teori dalam melakukan penelitian terhadap bidang studi agama Islam. Studi Islam ternyata dikaji dengan menggunakan berbagai teori dan pendekatan yang selama ini banyak dijumpai dalam ilmu-ilmu sosial, seperti Ilmu Ekonomi, Ilmu Politik, Kebudayaan, Sejarah dan lain sebagainya. Hal ini dimungkinkan terjadi karena agama Islam sebagaimana diketahui memiliki cakupan yang amat luas dan menjangkau seluruh aspek kehidupan manusia, sehingga pada aspek manapun manusia dapat menangkapnya dengan baik.
Namun demikian perlu dicatat dan digarisbawahi bahwa penggunaan teori dan pendekatan tersebut bukan ditujukan untuk menguji benar tidaknya aspek esensi ajaran Islam yang bersifat normatif atau ajaran yang terdapat dalam Al-qur`an da Al-hadits, karena ajaran yang terdapat dalam kadua sumber diakui mutlak benar. Yang dijadikan obyek penelitian adalah berkenaan aspek lahiriah atau aspek pengalaman dari ajaran wahyu tersebut.
Suatu pendekatan sangatlah sensitif, baik yang berhubungan dengan kemajuan maupun kemerosotan. Bukan kemampuan dalam menimbulkan suatu masalah yang menyebabkan stagnasi, apatis atau gerak dan kemajuan, tetapi agaknya metodelogi yang digunakan. Dalam abad keempat dan kelima sebelum masehi, ada jenius-jenius besar yang tidak dapat dibandingkan dengan Aristoteles lebih jenius daripada Roger Bacon. Tetapi bagaimana bisa orang-orang memiliki tingkat kejeniusan yang lebih rendah daripada Aristoteles yang telah meletakkan dasar-dasar bagi kemajuan ilmu pengetahuan, sebaliknya para jenius besar itu sendiri telah menyebabkan ribuan tahun stagnasi di dunia dan sebaliknya, orang awam menyebabkan terjadinya kemajuan ilmu pengetahuan dan kesadaran bagi umat manusia.


Jelaslah bahwa untuk mengenal Islam, kita tidak memilih suatu pendekatan saja, karena Islam bukanlah agama berdimensi satu. Islam bukanlah agama yang berdasarkan semata-mata pada perasaan-perasaan mistik manusia, Atau hanya terbatas kepada hubungan antara Tuhan dan manusia. Ini hanya satu dimensi dari aqidah Islam. Untuk mengenal dimensi tertentu ini kita harus beralih kepada metode filsafah, karena hubungan antara manusia dan Tuhan merupakan bagian dari bidang pemikiran.


BAB. IV
MODEL-MODEL PENELITIAN

4.1 Model penelitian Tafsir.
Dalam kajian kepustakaan dapat dijumpai berbagai hasil penelitian para pakar al-qur`an terhadap produk tafsir yang dilakukan generasi terdahulu. Model penafsiran al-qur`an yang dilakukan para ulama tafsir adalah sebagai berikut :
1) Model Quraish Shihab.
2) Model Ahmad Al-Syabashi.
3) Model Syeikh Muhammad Al-Ghazali.

4.2 Model penelitian Hadits.
Sebagaimana halnya Al-qur`an, Al-hadits pun telah banyak diteliti oleh para ahli, bahkan dapat dikatakan penelitian terhadap Al-hadits lebih banyak kemungkinannya dibandingkan penelitian terhadap al-qur`an. Hal ini antara lain dilihat dari segi datangnya Al-qur`an dan Al-hadits berbeda. Kedatangan (wurud) atau turun (nuzul)nya Al-qur`an dinyakini secara mutawatir berasal dari Allah. Tidak satu ayat pun yang diragukan yang bukan berasal dari Allah swt. Atas dasar ini maka dianggap tidak perlu meneliti apakah ayat-ayat Al-qur`an itu berasal dari Allah atau bukan. Berbeda dengan Al-hadits, hadits tidak seluruhnya berasal dari Nabi melainkan ada yang berasal dari selain Nabi.
Model penelitian hadits adalah sebagai berikut :
1) Model H. M. Quraish Shihab.
2) Model Musthafa Al-Sibaiy.
3) Model M. Al-Ghazali.
4) Model Zain al-din `Abd. Al-Rahim bin Al-Husain Al-Iraqiy.

4.3 Model penelitian Filsafah Islam.
Berbagai model penelitian filsafah Islam yang dilakukan para ahli dengan tujuan dijadikan bahan perbandingan bagi pengembangan filsafah Islam selanjutnya :
1) Model M. Amin Abdullah.
2) Model Otto Harrassowitz, Majid fakhry dan Harun Nasution.
3) Model Ahmad Fuad Al-ahwani.

4.4 Model penelitian Ilmu Kalam.
Secara garis besar penelitian Ilmu Kalam dibagi kedalam dua bagian, yaitu : pertama penelitian yang bersifat dasar dan pemula, dan kedua penelitian bersifat lanjutan atau pengembangan dari penelitian model pertama. Penelitian model pertama bersifat baru pada tahap pembangunan Ilmu Kalam menjadi suatu disiplin ilmu dengan merajuk pada Al-qur`an dan Al-hadits serta berbagai pendapat tentang kalam yang dikemukakan oleh berbagai aliran teologi. Sedangkan penelitian model kedua sifatnya hanya mendeskripsikan tentang adanya kajian Ilmu Kalam dengan menggunakan bahan-bahan rujukan yang dihasilkan oleh penelitian model pertama.

Ad. 1. Penelitian Pemula.
Beberapa hasil karya penelitian pemula adalah sebagai berikut :
a. Model Abu Manshur M. bin Muhammad bin Mahmud Al-maturidy Al-samarqandy.
b. Model Al-Imam Abi Al-hasan bin Ismail Al-asy`ari.
c. Model Abd. Al-jabbar bin Ahmad.
d. Model Thahawiyah.
e. Model Al-Imam Al-Haramain Al-juwainy (478 H).
f. Model Al-Ghazali (w.1111 M).
g. Model Al-Amidy (551 – 631 H).
h. Model Al-Syahratani.
i. Model Al-Baizawi.

Ad. 2. Penelitian Lanjutan.
Hasil penelitian lanjutan yaitu :
a. Model Abu Zahrah.
b. Model Abu Mustafa Al-Ghurabi.
c. Model Abd. Al-lathif Muhammad Al-Asyr.
d. Model Ahmad Mahmud shubhi.
e. Model Ali sami al-Nasyr dan Ammar zam`ry al-Thaliby.
f. Model Harun Nasution.


4.5. Model Penelitian Tasawuf.
Berbagai bentuk dan model penelitian tasawuf adalah sebagai berikut :
1. Model Sayyed Husein Nasr.
2. Model Mustafa Zahri.
3. Model Kautsar Azhari Noor.
4. Model Harun Nasution.
5. Model A. J. Arberry.

4.6. Model Penelitian Fiqh. (hukum).
1. Model Harun Nasution.
2. Model Noel J. Coulson.
3. Model Muhammad Atha Mudzhar.



4.7. Model Penelitian Politik.
1. Model M. Syafi`i Ma`arif.
2. Model Harry J. Benda.

4.8. Model Penelitian pendidikan Islam.
Model penelitian pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
1. Model penelitian tentang problema guru.
2. Model penelitian tentang lembaga pendidikan Islam.
3. Model penelitian kultur pendidikan Islam.
4.9. Model Penelitian Sejarah Islam.
Terdapat berbagai model penelitian sejarah yang dilakukan para ahli, ada yang melakukan studi sejarah dari segi tokoh atau pelakunya, peristiwanya, produk-produk budaya dan ilmu pengetahuan, wilayah atau kawasan tertentu. Modelnya adalah sebagai berikut :
1. Model penelitian sejarah kawasan.

4.10. Model Penelitian pemikiran modern dalam Islam.
Telah banyak hasil penelitian yang dilakukan para ahli yang mengambil tema disekitar pemikiran modern dalam Islam. Model penelitian pemikiran modern dalam Islam adalah :
1. Model penelitian Deliar Noer.
2. Model penelitian H. A. R. Gibb.

4.11. Model Penelitian Antropologi dan Sosiologi agama.
Penelitian dibidang Antropologi agama antara lain dilakukan oleh seorang Antropologi bernama Clifford Geertz pada tahun 50 – an, hasil penelitian dituliskan dalam bukunya yang berjudul The Religion Of Java.
Model penelitian Antropologi yang dilakukan Geertz dapat dijadikan model atau bahan perbadingan bagi peneliti selanjutnya.


Model penelitian Sosiologi Agama pada dasarnya adalah penelitian tentang agama yang mempergunakan pendekatan ilmu sosial. Mengenai metodelogi penelitian Sosiologi agama lengkap dengan perangkatnya pada dasarnya sama dengan langkah-langkah dalam penelitian Antropologi agama, karena Antropologi sering dikelompokkan sebagai salah satu cabang dari Sosiologi.

























BAB. V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari uraian pembahasan dan analisis masalah yang telah penulis uraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan dan saran-saran. Adapun kesimpulannya adalah sebagai berikut :
1. Agama pada umumnya dan Islam khususnya dewasa ini semakin dituntut peranannya untuk menjadi pemandu dan pengarah kehidupan manusia, agar tidak terperosok kepada keadaan yang merugikan dan menjatuhkan martabatnya sebagai makhluk yang mulia.
2. Dalam melakukan penelitian digunakan berbagai pendekatan, karena untuk menjelaskan suatu data yang dihasilkan dalam penelitian.
3. Penggunaan teori-teori dalam kajian Islam telah banyak di bahas oleh para ahli.
4. Berbagai macam model penelitian yang dilakukan para ahli seseorang yang ingin memahami Agama dalam hubungannya dengan berbagai masalah tersebut perlu melengkapi diri dengan ilmu-ilmu filsafat.

B. SARAN-SARAN.
1. Memahami agama Islam yang ideal seperti disebutkan diatas perlu dilakukan, karena suatu sikap keberagamaan yang benar harus bertolak dari pemahaman yang benar terhadap agama tersebut.
2. Akhirnya, penulis mencoba mengajak pembaca ke arah pemahaman agama yang komprehensif, aktual dan integral, juga telah memberikan petunjuk praktis tentang bagaimana suatu penelitian agama itu dilakukan. Dengan cara demikian, umat Islam pada umumnya, dan kalangan muslimin terpelajar khususnya selain dapat memahami agama yang utuh dan integral, juga dapat mengembangnya, sehingga agama tersebut mampu meresponi berbegai persoalan aktual dalam kehidupan modern.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ya